Minggu, 05 Desember 2010

INDAHNYA PENGORBANAN

Oleh : Tajun Nashr Ms.

Tidak bisa dibayangkan alangkah bahagianya ketika sesuatu yang ditunggu bertahun-tahun itu akhirnya tiba. Seorang ayah yang mengharapkan kelahiran seorang putra di usianya yang senja, akhirnya terlahirlah bayi mungil dan rupawan bernama “Isma’il”. Harapan besar tentunya sudah tersirat dalam hatinya karena akan ada yang meneruskan amanat besar mengemban risalah kenabian sang Abul Anbiyaa’.
Waktu  silih berganti, Isma’il pun tumbuh menjadi remaja yang tangkas, namun di saat kecintaan pada anaknya memuncak maka datanglah perintah dari Allah untuk menyembelihnya, melalui mimpi yang benar. Tentu saja bisa dibayangkan bagaimana perasaan Nabi Ibrahim waktu itu, bertahun-tahun menunggu kelahiran seorang putra, namun ketika yang diharapkan sudah datang maka datanglah perintah untuk menyembelihnya. Disinilah kecintaan seorang ayah diuji, dia dihadapkan diantara dua pilihan : kecintaan kepada anaknya atau ketaatan kepada perintah Rabb semesta alam.

Namun karena ketulusan hatinya maka rasa cintanya yang sangat kepada anaknya tidak sampai melebihi rasa cinta kepada Allah. Dengan penuh keikhlasan ia mengorbankan anaknya tercinta, begitu pula Isma’il, ia menjawab seruan Rabbnya dengan kalimat yang sangat indah “Wahai Ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya’ Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Selasa, 19 Oktober 2010

Neraca Pemikiran

Neraca Pemikiran (1)

Senin, 03/08/2009 07:42 WIB | email | print | share
Oleh Nidlol Masyhud
Bismillâhirrahmânirrahîm
Manusia lahir membawa tiga potensi besar yang merupakan sarana asasi untuk menyerap ilmu pengetahuan dan mengenal kebenaran. Ketiga potensi yang tentunya merupakan nikmat agung ini adalah kemampuan untuk melakukan penginderaan secara langsung, menerima informasi dari luar, dan berpikir secara sehat. Dalam Al-Quran ditegaskan bahwa, “Allah mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Dan Allah jadikan untuk kalian pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran, agar kalian bersyukur”(QS. An-Nahl: 78).
Semakin optimal seorang manusia mendayagunakan indera, memori, dan rasionya secara tepat, semakin besar pula ilmu dan kebenaran yang diserap dan dikenalnya. Hal ini pada gilirannya akan menancapkan keyakinan-keyakinan yang lurus dan melahirkan tindakan-tindakan yang positif.
Sebaliknya, bila tiga potensi dasar ini diabaikan, atau digunakan tidak semestinya, maka yang lahir adalah kekeliruan berpikir. Kekeliruan berpikir—terutama dalam hal-hal yang krusial—adalah awal segala bencana. Kekeliruan berpikir itulah yang dalam sejarah alam raya merupakan cikal bakal munculnya keyakinan-keyakinan sesat dan perbuatan-perbuatan jahat. Allah Swt. menegaskan, “Dan telah Kami sediakan banyak jin dan manusia untuk (menjadi penghuni) Neraka Jahannam. Mereka punya hati tetapi tidak mereka gunakan untuk berpikir; mereka punya mata tetapi tidak mereka gunakan untuk melihat; mereka punya telinga tetapi tidak mereka gunakan untuk mendengar. Mereka itu layaknya binatang ternak, dan bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raf: 179).
Dosa Iblis yang mendurhakai perintah Allah Swt. untuk bersujud di hadapan Adam a.s. adalah dosa yang berakar pada kekeliruan berpikir. Ia membantah perintah tegas dari Allah itu dengan mengatakan, “Aku lebih baik darinya (Adam). Engkau menciptakan aku dari api, dan Engkau menciptakannya dari tanah!” (QS. Al-A’raf: 12).

Rabu, 15 September 2010

Amerika Bakar Qur'an, 24ribu Hafidz lahir di Gaza

E-mail Print PDF
Tujuan utama dari program yang dicanangkan Darul Qur'an ini adalah untuk menghasilkan generasi qur'ani

Hidayatullah.com--Di tengah maraknya isu rencana pembakaran mushaf al-Qur'an di Amerika Serikat, di Gaza malah merayakan kelulusan 24 ribu hafidz (penghafal) al-Qur'an. Mereka menyelesaikan hafalannya di kamp-kamp Taj al-Waqar yang digelar oleh Darul Qur'an sepanjang musim panas.

Selasa, 17 Agustus 2010

“Mujahid-Mujahid Batumarta” [2]

Rintisan dakwah dari para “mujahid dakwah” itulah yang kini membuahkan hasil. Baca Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian ke-292

Oleh: Dr. Adian Husaini*

NAMA lengkapnya Muhammad Zuhdi Safari. Sekarang, di kawasan Batumarta, dia biasa dipanggil Mbah Safari. Usianya terbilang sudah sangat lanjut, yakni 78 tahun. Mbah Safari  dikaruniai 7 anak, 20 cucu, dan 1 cicit. Di usianya yang setua itu, ia masih aktif mengajar. Di pesantren Luqmanul Hakim, Mbah Safari mengajar Ilmu Tajwid dan Qishashul Anbiya. Berbagai aktivitas pengajian juga masih terus dihadirinya.

Mbah Safari termasuk generasi awal para mujahid yang mengembangkan dakwah Islam di lokasi Transmigrasi Batumarta. Ia bertransmigrasi tahun 1976. Ketika itu, dia sudah menjadi pegawai negeri sipil (PNS), dan sudah menjadi guru selama 20 tahun di daerah Bumiayu, Jawa Tengah. Pendidikan formalnya ditempuh di SPG. Pernah juga mengambil D-1 Bahasa Indonesia dan selama tiga tahun kuliah di Perguruan Tinggi Dakwah Islam (cabang) Purwokerto. Perguruan Islam PTDI didirikan oleh Letjen TNI Purn Sudirman, ayah dari Basofi Sudirman, yang pernah manjabat Gubernur Jawa Timur.

“Sejak awal, niat saya bertransmigrasi, disamping untuk urusan ma’isyah, juga untuk dakwah,” kata Mbah Safari. Dunia dakwah bukan hal asing baginya. Selama aktif sebagai guru di daerah Bumiayu, Safari juga sudah aktif sebagai dai Muhammadiyah. Ia sering berkeliling dari kampung ke kampung, menyampaikan dakwah ke masyarakat.

Kamis, 12 Agustus 2010

“Mujahid-Mujahid Batumarta” [1]


Kisah dakwah di lokasi transmigrasi Batumarta menyimpan kisah perjuangan penuh hikmah. Baca Catatan Akhir Pekan Adian ke-291

Oleh: Dr. Adian Husaini*


PESANTREN Lukmanul Hakim, Batumarta, Sumatera Selatan.  Rabu, 4 Agustus 2010, jam di laptop saya menunjukkan pukul 03.03 dini hari. Mata saya sulit terpejam. Padahal, saya ingat benar, pukul 00.05 saya baru merebahkan badan. Ini tidak seperti biasanya. Saya tergolong orang yang mudah tidur, di mana saja, dan kapan saja. Apalagi, Selasa, sehari sebelumnya, seharian penuh saya harus menempuh perjalanan dari Surabaya ke Batumarta. Berangkat dari Surabaya pukul 08.15 sampai di Batumarta pukul 23.00.

Empat jam saya sempat menunggu di Bandara Soekarno Hatta, ditambah sekitar enam jam perjalanan darat dari Palembang ke Batumarta. Tentu cukup melelahkan. Senin malam sebelumnya, saya dipaksa dokter Abdul Gofir SpPd, kawan saya, harus menjalani pemeriksaan darah di kliniknya, di Jombang, Jawa Timur. Ternyata kadar Trigliserid saya mencapai 336,7 mg/dl, cukup tinggi dari kadar normal yang harusnya dibawah 150 mg/dl.

Senin, 02 Agustus 2010

Hamparan Sajadah Cinta........

Disinilah akan kau temukan kedamaian....
Disinilah akan kau temukan ketenangan....


Mendekatkan diri kepada-Nya
Sang Pencipta alam semesta......



Disini pula dulu kader-kader militan yang  terdidik....
Sehingga lahirlah Ibnu Abi Quhafa, Ibnul Khattab, Ibnu Affan, dan Ibnu Abi Thalib
Disinilah dulu generasi yang pertama mengatur strategi perang....




Sekarang......
Saatnya kita kembali ke Masjid.....

Kamis, 29 Juli 2010

“Jangan Lupa Tujuan Pendidikan”

Di tengah jeritan banyak orang yang kesulitan biaya pendidikan, muncul kebijakan membuat patung-patung di berbagai tempat. Baca CAP Adian Husaini ke-287

Oleh: Dr. Adian Husaini*

PADA Hari Senin (12/7/2010), anak-anak sekolah kembali ke bangku sekolah, setelah menjalani libur panjang. Sebagian mereka adalah murid-murid yang menapaki jenjang pendidikan baru. Sebagian lain, hanya menjalani kenaikan kelas. Dalam situasi seperti ini, meskipun sudah pernah kita singgung sebelumnya, ada baiknya, kita semua – terutama orang tua dan guru – benar-benar menyadari apa tujuan sebenarnya dari sebuah proses pendidikan menurut pandangan Islam.

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, dalam bukunya, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur, ISTAC, 1993), merumuskan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan orang yang baik (to produce a good man). Kata al-Attas, “The aim of education in Islam is therefore to produce a goodman… the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab.” (hal. 150-151).

Siapakah manusia yang baik atau manusia beradab itu? Dalam pandangan Islam, manusia seperti ini adalah manusia yang kenal akan Tuhannya, tahu akan dirinya, menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai uswah hasanah, mengikuti jalan pewaris Nabi (ulama), dan berbagai kriteria manusia yang baik lainnya. Manusia yang baik juga harus memahami potensi dirinya dan bisa mengembangkan potensinya, sebab potensi itu adalah amanah dari Allah SWT.

Ilmu Bukan Sekedar Teori



Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id


Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah sampai kepadaku suatu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan aku pasti beramal dengannya.”

Amr bin Qais al-Mala’i rahimahullah berkata, “Apabila sampai kepadamu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beramallah dengannya meskipun hanya sekali agar kamu termasuk penganutnya.” Syaikh Abdurrazzaq berkata, “Maksud ucapan beliau; beramallah dengannya meskipun hanya sekali, adalah dalam perkara sunnah dan amalan yang dianjurkan sedangkan dalam perkara wajib maka tidak cukup mengamalkannya sekali kemudian bisa disebut sebagai penganutnya.” (lihat Tsamrat al-’Ilmi al-’Amal karya Syaikh Dr. Abdurrazzaq al-Badr, hal. 27)

Jangan tertipu dengan amalmu!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah tatkala Ibrahim membangun pondasi Ka’bah dan juga Isma’il, mereka berdua berdoa; ‘Wahai Rabb kami terimalah amal kami’.” (QS. al-Baqarah: 127). Wuhaib bin al-Ward rahimahullah ketika membaca ayat ini maka ia pun menangis dan berkata, “Wahai kekasih ar-Rahman! Engkau bersusah payah mendirikan pondasi rumah ar-Rahman, meskipun demikian engkau merasa khawatir amalmu tidak diterima!” (lihat Tsamrat al-’Ilmi al-’Amal, hal. 17)

Jadilah contoh yang baik!

Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Sesungguhnya seorang alim/ahli ilmu apabila tidak mengamalkan ilmunya maka nasehatnya akan luntur dari hati sebagaimana aliran air hujan yang melintasi bongkahan batu.” al-Ma’mun pernah berkata, “Kami lebih membutuhkan nasehat dengan perbuatan daripada nasehat dengan ucapan.” Syaikh Abdurrazzaq menceritakan: Suatu saat aku mengunjungi salah seorang bapak yang rajin beribadah di suatu masjid yang dia biasa sholat di sana. Beliau adalah orang yang sangat rajin beribadah. Ketika itu dia sedang duduk di masjid -menunggu tibanya waktu sholat setelah sholat sebelumnya- maka akupun mengucapkan salam kepadanya dan berbincang-bincang dengannya. Aku pun berkata kepadanya, “Masya Allah, di daerah kalian ini banyak terdapat para penuntut ilmu.” Dia berkata, “Daerah kami ini!”. Kukatakan, “Iya benar, di daerah kalian ini masya Allah banyak penuntut ilmu.” Dia berkata, “Daerah kami ini!”. Dia mengulangi perkataannya kepadaku dengan nada mengingkari. “Daerah kami ini?!”. Kukatakan, “Iya, benar.” Maka dia berkata, “Wahai puteraku! Orang yang tidak menjaga sholat berjama’ah tidak layak disebut sebagai seorang penuntut ilmu.” (lihat Tsamrat al-’Ilmi al-’Amal, hal. 36-37). Alangkah benar perkataan bapak tua tersebut, Ibnu Umar mengatakan, “Dahulu kami -para sahabat- apabila tidak menjumpai seseorang pada jama’ah sholat subuh dan isyak maka kami pun menaruh prasangka buruk kepadanya -jangan-jangan dia munafik, pent-.” (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir dll, lihat Tsamrat al-’Ilmi al-’Amal, hal. 37).

Bukankah tolabul ilmi amalan yang utama?

Abdullah bin al-Mu’taz rahimahullah berkata, “Ilmu seorang munafik itu terletak pada ucapannya, sedangkan ilmunya seorang mukmin terletak pada amalnya.” Sufyan rahimahullah pernah ditanya, “Menuntut ilmu yang lebih kau sukai ataukah beramal?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya ilmu itu dimaksudkan untuk beramal, maka jangan kau tinggalkan menuntut ilmu dengan alasan beramal, dan jangan kau tinggalkan amal dengan alasan menuntut ilmu.” (lihat Tsamrat al-’Ilmi al-’Amal, hal. 44-45).

Ya Allah, jadikanlah ilmu kami hujjah untuk membela kami, bukan hujjah yang menjatuhkan kami….

Sabtu, 24 Juli 2010

Dunia Baru.......

Assalamu'alaikum
Goresan pertamaku di dunia maya kumulai hari ini Sabtu, 24 Juli 2010 pukul 21:19 WIB.....,
dunia baru bagiku......
semoga bisa memberikan manfaat,,,,,,

Semoga menjadi tumahan dan curahan .........
Wassalamu'alaikum
 

Blogger news

Blogroll

About