Sabtu, 28 Juli 2012

Taqwa dan Dimensi Sosial

Ini adalah tulisan yang dibuat 3 tahun yang lalu, namun semoga temanya masih relevan dengan momen kita saat ini, Momen Romadlon yang penuh keberkahan.


Sekitar  2 minggu yang lalu kita mendengar berita menyedihkan,  Gempa besar berkekuatan 7,6 Skala Richter melantakkan kota Padang dan sekitarnya pukul 17.16 pada tanggal 30 September lalu. Gempa susulan terjadi pada pukul 17.58. Keesokan harinya, 1 Oktober kemarin, gempa berkekuatan 7 Skala Richter kembali menggoyang Jambi dan sekitarnya tepat pukul 08.52.WIB.
Sekilas ketika kita mendengar dan memperhatikan berita tersebut, maka apa yang terlintas dalam pikiran kita? Apakah seakan – akan ada sesuatu yang mengusik kita dan membuat tidur tidak nyenyak, ataukah kita acuh tak acuh dan tidak menghiraukan kejadian tersebut???
Disinilah kecerdasan bermasyarakat atau kecerdasan sosial kita coba diketuk…..
Salah satu dari ciri-ciri ketaqwaan seorang muslim adalah ia memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Dimensi ini tidak kalah penting dibanding dengan dua dimensi lainnya yaitu emosional dan spiritual.
Secara jelas disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah : “Yaitu orang-orang yang menginfaqkan hartanya di waktu lapang maupun di waktu sempit….”(Q.S. 3 : 134)



Di sinilah kita akan diuji apakah kita termasuk orang-orang yang bertaqwa ataukah tidak, dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa salah satu ciri dari orang yang bertaqwa adalah orang yang masih memiliki kepedulian terhadap sesama dalam keadaan apapun, baik itu dalam keadaan lapang maupun sempit, ketika ia diberi karunia yang melimpah ia tidak menjadi lupa diri dengan mementingkan kepentingannya sendiri, namun ia tidak menjadi bakhil ketika ia berada dalam keadaan kekurangan.
Itulah salah satu ciri orang yang bertaqwa, yaitu memiliki kepekaan sosial yang tinggi. jadi ketaqwaan kita kepada Allah selain dibuktikan dengan mendekatkan diri kepada-Nya melalui ibadah-ibadah mahdlah, juga harus dibuktikan dengan kepedulian kita terhadap sesama muslim yang sedang ditimpa kesusahan.
Lalu apakah yang menyebabkan orang-orang yang bertaqwa rela menginfaqkan hartanya baik dalam keadaan susah maupun senang? Hal tersebut karena mereka mengharapkan ridlo Allah semata. Dan hal tersebut menjadi salah satu indikator ketulusan seorang hamba dalam beramal.
Pahala dari orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah sangat besar sekali, setidaknya terdapat 10 kali pujian Allah SWT bagi orang yang mau menginfaqkan hartanya di jalannya. Salah satu diantaranya adalah :
 مَثَلُ الَّذين يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ الله كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ والله يُضَاعِفُ لِمَن يَشَآءُ والله وَاسِعٌ عَلِيمٌ  (البقرة :261 )
Ada beberapa orang yang menghubungkan waktu kejadian gempa tersebut dengan ayat-ayat Al-Qur’an sehingga selang sehari setalah gempa beredar pesan singkat yang kurang lebih berisi : “Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Coba lihat Al-Qur’an!”, jika kita mengikuti pesan singkat tersebut maka memang kita menemukan bahwa waktu kejadian gempa tersebut berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan bencana yang menimpa suatu negeri. Wallahu a’lam bisshowaab. Semuanya kita serahkan kepada Allah semata, karena dibalik segala kejadian-kejadian yang ada di muka bumi ini, khususnya di balik segala musibah pasti ada hikmah-hikmah tersembunyi yang harus kita renungkan, yang penting adalah kita bisa mengambil ibroh dari semuanya.
Yang tak kalah penting disini adalah mari kita mengukur sejauh mana kepedulian kita terhadap korban-korban gempa tersebut yang tentunya diantara mereka ada saudara-saudara kita sesama muslim. Sehingga pengaruh dari bulan Romadlon yang telah berlalu masih bisa kita rasakan dan langsung kita terapkan dalam kehidupan kita. Ikatan tali ukhuwah yang sebenarnya adalah ikatan tali ukhuwah islamiyah, yang tidak akan dapat dibangun dengan baik kecuali atas izin dari Allah SWT  melalui jalan meningkatkan rasa saling memahami dan saling peduli antara sesama. Karena orang muslim dengan muslim yang lainnya diibaratkan sebagai suatu kesatuan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.
Maka dengan memiliki kepedulian sosial yang tinggi kita berusaha menerapkan salah satu jalan untuk menuju orang yang bertaqwa, selain tentunya semua itu tidak bisa dilepaskan dengan 2 dimensi lain, yaitu dimensi kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Karena agama kita adalah agama yang sempurna dan menyeluruh yang mencakup segala dimensi kehidupan.
Akhirnya di sisa bulan Syawwal ini marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan memperbaiki segala segi kehidupan kita baik Spiritual, Emosional maupun spiritual. Tidakkah kita sangat mengharapkan balasan yang luar biasa dari Allah SWT berupa syurga yang luasnya meliputi luas langit dan bumi, yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, yang lebih baik daripada kenikmatan dan kelezatan yang ada di dunia.?! Tidakkah kita mengharapkan kenikmatan yang terbesar di akhirat kelak yaitu kenikmatan bertemu dangan  Allah SWT.?!
Maka bangkitlah wahai ummat islam kita bangun solidaritas sesama muslim demi kejayaan islam dan kaum mislimin. ALLAHU AKBAR!





Oleh : Tajun Nashr, Ms.
Sabtu, 10 Oktober 2009 M/ 20 Syawwal 1430 H
13 : 35 WIB
Musholla Ar-Rahmah, Tebet – Jakarta Selatan

Tidak ada komentar:

 

Blogger news

Blogroll

About