Oleh : Tajun Nashr Ms.*)
Hinaan dan cercaan itu tiada hentinya keluar dari mulut kotor para
penggunjing, makian, cacian bahkan penganiayaan fisik kerap beliau hadapi di
awal-awal dakwah agama yang hanif ini. Beliau sempat dicela sebagai tukang
sihir, dukun, bahkan dijuluki sebagai orang gila. Namun tak selangkah pun
beliau mundur dalam memperjuangkan risalah ini sampai datanglah pertolongan
dari Allah SWT pasca kepindahan beliau ke lahan dakwah baru yang pada akhirnya
berujung ada kemenangan hakiki berupa penaklukan dan pembersihan kembali kota
suci Allah dari aroma-aroma dan bekas-bekas kesyirikan.
Itulah buah dari keteguhan beliau selama ini dalam menghadapi ujian-ujian
dari Rabb-Nya, semua itu beliau hadapi dengan tegar tanpa mengeluh sedikitpun. Rasanya sudah cukup bagi kita contoh dan tauladan bagaimana keteguhan Nabi
Muhammad SAW dalam menghadapi berbagai macam coba’an dan ujian. Sebab jika kita
renungkan secara mendalam, maka tidaklah kehidupan dunia ini kecuali
tahapan=tahapan test dan ujian yang kadarnya tentu bertahap tergantung dari
tingkat keimanan seseorang. Semua pemberian Allah baik berupa nikmat ataupun
musibah pada hakikatnya adalah ujian kehidupan. Dari sana akan nampak dengan
jelas, siapa yang benar-benar beriman dan orang-orang yang hanya
membenar-benarkan kemunafikannya.
Untuk itu dalam menghadapi segala aral melintang dalam perjalanan kehidupan
ini diperlukan suatu alat peredam goncangan (shock-breaker) untuk mengurangi
goncangan-goncangan yang ada, dan shock-breaker itu bernama kesabaran.
Ya...hanya dengan kesabaranlah pedihnya luka serasa gigitan semut belaka,
pedasnya cacian seakan-akan angin yang lewat begitu saja, pahitnya hidangan
ujian kehidupan serasa manis dan menyejukkan. Shock breaker ini pula yang bisa
mengurangi goncangan-goncangan dan letupan-letupan emosi amarah yang
berlebihan. Melalui ucapan “أستغفر الله العظيم” seakan-akan ada angin segar yang berusaha
mematikan kobaran amarah.
Namun apakah cukup dengan bekal kesabarn ini saja kira hadapi ujian dan
cobaan di depan mata kita? Tentu saja tidak. Dalam menghadapi suatu masalah
tentunya kita juga harus memikirkan trik-trik dan cara-cara untuk keluar
darinya, disinilah kita dituntut untuk mengoptimalkan kemampuan akal kita
dengan sebaik-baiknya. Seorang muslim tidak akan terjatuh ke dalam lubang yang
sama sebanyak 2 kali bukan?!
Seusai menghadapi ujian maupun cobaan ia akan berusaha untuk mengambil
ibroh dan hikmah serta pelajaran di balik itu semua. Selain itu tentunya ketika
ia berada dalam masalah tersebut ia akan memikirkan cara atau jalan keluar dari
masalah tersebut, dia akan memikirkan taktik dan strategi yang tepat dan sesuai
dalam menghadapi masalah tersebut,
Sebuah keberhasilan akan terasa lebih manis jika diraih dengan susah payah
dan perjuangan. Seorang yang sukses bukanlah orang yang tanpa masalah,
kesuksesan seseorang justru akan terlihat dari cara ia menghadapi masalah yang
sedang ia hadapi, semakin sering ia menghadapi masalah seharusnya menjadikan
dirinya menjadi lebih berpengalaman dan lebih ahli dalam menghadapinya.
Maka bisa kita katakan bahwa ujian-ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya
bisa berfungsi sebagai ajang untuk mengasah kecerdasan berfikirnya dalam
memecahkan masalah juga untuk membentuk karakter dan kepribadian kita agar
menjadi orang-orang yang tangguh dan berkarakter. Kemudian setelah berusaha sekuat tenaga dan memikirkan strategi yang tepat
maka tibalah saatnya bagi kita untuk menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Tawakkal dan berserah diri adalah
senjata utama seorang mukmin. Kita harus menyadari sepenuh hati bahwa segala
macam ujian ini adalah berasal dari-Nya, maka yangm bisa membantu kita untuk
keluar dari ujian ini adalah Dia semata, Yang Maha Mendengar do’a-do’a
hamba-Nya.
Selain itu kita harus berfikir masalah yang kita hadapi ini masuk ketegori
mana. Apakah ini ujian ataukah adzab ? kerena bisa jadi masalah yang kita
hadapi ini bukan bentuk ujian yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba yang
dicintai-Nya, tetapi merupakan hukuman atau adzab yang diberikan oleh Allah
karena kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang kita lakukan. Maka cara terakhir
dalam menghadapi ujian adalah dengan memperbanyak istighfar dan taubat kepada
Allah.
Akhirnya bisa kita simpulkan kembali bahwa dengan datangnya ujian dan
coba’an dalah berfungsi untuk menyeleksi orang-orang yang terbaik diantara
hamba-hambaNya, karena ujian-ujian tersebut mengasah kecerdasa emosional
(kesabaran), intelektual (solving problem) dan spiritual (do’a dan istighfar).
Ketika kecerdasan itu benar-benar terasah maka secara otomatis akan membentuk
suatu pribadi tangguh yang siap bertempur di medan kehidupan yang penuh aral
melintang.
Maka Maha benar Allah dalam firman-Nya :
”Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu
dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimnu)
dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Q.S. Ali Imron : 200)
(*)Dipublikasikan
di Buletin An-Nadwah (FoSKI) Edisi
: 02/Th.IV/Mei/2010


Tidak ada komentar:
Posting Komentar